Sayapku yang Malang

September 1st, 2008 by cephilman

ARC,  2 Romadhon 1429 H     

 

           2 September 2008 M

 

 

 

Sayapku yang Malang

 

**C Hilman**

<!–  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>  

Sayapku yang dahulu kubanggakan

   

Kiani tinggal sekumpulan bulu-bulu

 

yang tak berdaya
Yang sering terseok jika terkena hembusan angin

 

<!–  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>  

Sayapku ini dahulu perkasa

 

Mampu terbang bermil-mil jauhnya

 

Menerjang derasnya tiupan angin

 

Bulu sayapku selalu mengembang

 

Selalu siap menantang hembusan angin

 

Yang akhirnya membuatku terbang

 

Terbang tuk menggapai mentari

 

dan melihat indahnya hamparan bumi

<!–  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>  

Sayapku yang dahulu kubanggakan

   

Kini tinggal sekumpulan bulu-bulu

Yang tak berdaya

 

yang sering terseok jika terkena hembusan angin

<!–  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>  

Sayapku dahulu tak pernah takut

   

Dengan kencangnya hembusan angin

Bahkan dengan badai sekalipun

 

Karena satu keyakinan

 

Di atas sana

 

Akan ada kehangatan mentari

 

dan akan melihat indahnya hamparan bumi

 

yang elok dan menyenangkan

 

Ada kebun buah-buahan

 

dan makanan yang selalu segar

 

Ada sungai yang tak pernah kering

 

dan bidadari cantik yang selalu ramah menyambut

Itulah keyakinan sayapku dulu

<!–  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>  

Tetapi kini….

 

Sekali lagi

 

Sayapku yang dahulu kubanggakan

 

Kini tinggal sekumpulan bulu-bulu

 

yang tak berdaya

 

Yang sering terseok jika terkena hembusan angin

 

Bulu-bulu sayapku yang dahulu perkasa

 

Kini tergantung lemas di barisan sayapku

 

Sepertinya tinggal menunggu masa

 

untuk patah dan jatuh oleh hembusan angin

<!–  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:3.0cm 3.0cm 3.0cm 99.25pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>  

Yaa Allah….

 

Mungkinkah sayapku bisa

 

Setangguh dahulu…. ?

 

Sekuat dahulu…. ?

 

Seberani dahulu…. ?

 

dan seperkasa dahulu…. ?

 

yaa Allah….

 

Aku hanya memohon kepada-MU

 

Berilah aku kekuatan

 

Untuk kembali menjadikan

 

Sayapku seperti dahulu

 

Bahkan melebihi kekuatannya dahulu

Yaa Allah …
Aku yakin Engkau Maha Segalanya

 

Atas hamba-hamba-MU

 

Di muka bumi ini

Untuk Ibuku Sayang

July 28th, 2008 by cephilman

Ibuku tak pernah cerita
Betapa perjuangannya untuk menjagaku
Dimasa kecil dimana aku masih sangat lemah
Jika tanpa penjagaan dan kasih sayangnya
Aku takkan mampu seperti sekarang ini

Beliau hanya cerita prestasi-prestasiku waktu kecil
Beliau hanya cerita kelebihan-kelebihaku waktu kecil
Beliau hanya cerita bahwa aku sangat menggemaskan
Beliau hanya cerita bahwa aku sangat lucu

Itulah ibuku wanita mulia yang aku sayangi…
Ibu…aku mencintai dan menyayangimu…

KEINGINAN UMAT DISAAT MENANG

April 20th, 2008 by cephilman

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam atas nabi Muhammad bin Abdullah, nabi yang ummi dan al-amin, dan kepada keluarga dan sahabatnya serta para tabiin dengan ihsan hingga hari kiamat, selanjutnya…

Telah terlewatkan satu minggu yang penuh dengan berbagai peristiwa meliputi seluruh umat, disaat terjadi pergolakan dari kondisi diam menuju harakat, dari kalalaian menuju kesadaran, dari ketakutan menuju keberanian dan dari keterkekangan menuju kebebasan.

Satu minggu yang penuh dengan perjalanan suatu bangsa menuju kemerdekaan yang hakiki bagi rakyat “Kosovo”, dan harakah menuju perubahan yang maksimal bagi rakyat “Pakistan”, sehingga membuat para pelaku penindasan yang menyangka bahwa kemampuan umat telah dikepung oleh undang-undang dan aturan-aturan yang menindas, dan telah dikekang oleh berbagai penghambaan, ditundukkan oleh kekuatan jabariyah (system pemaksaan) menjadi gentar. Kami sampaikan kepada mereka: “Telah tiba saatnya bagi orang yang bingung untuk kembali melakukan kilas balik akan stabiltas keamanan yang dibutuhkan oleh diri sendiri, saatnya menyadari bahwa hari demi hari terus berjalan, dan roda zaman terus berputar, dan bumi “Dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-A’raf : 128)

Umat hendaknya kembali melihat sisi prioritas, bersandarkan pada pondasi yang kokoh akan ketsiqohan terhadap kemampuannya melakukan perubahan secara objektif menuju kehidupan yang jauh dari kehinaan dan penyerahan diri akibat kelemahan.

Dan umat yang lebih utama untuk bergerak mencapai kemerdekaannya adalah umat Islam; tidak lain kecuali karena panji-panji kebaikan yang telah diberikan secara khusus oleh Allah untuk menjadi pemimpin dan panutan “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (Ali Imron : 110). Karena itu kewajiban umat adalah menyusun kembali batu bata harakah untuk membuka mata seluruh manusia akan eksistensi dirinya; bukan hanya sebagai karunia dan pemberian terhadap anak manusia, namun juga sebagai kewajiban Islam dan amanah rabbaniyah : “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatnir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh”. (Al-Ahzab : 72)

Dan manusia yang paling utama untuk begerak menuju kemenangan yang sesuai keinginan umat adalah al-insan robbani yang telah melupakan dirinya dari tujuan hidupnya, terbelenggu jiwanya, terkungkung perasaan, kecendrungan dan keinginnya, berharap karena Allah untuk mencapai ridha-Nya, Qanaah, berkorban dan totalitas yang menghilangkan segala bentuk ashobiyah (fanatisme) atau perbedaan suku, bangsa dan ras, acuh terhadap pelaku perampasan para penjajah negeri yang meminta untuk ruku’ dan melecehkan kehormatannya dengan berbagai dalih atau tuduhan. Sebagaimana –insan Robbani- memiliki kehormatan yang tidak akan ridha terhadap kehinaan yang melanda penduduk negeri sendiri yang disetir oleh srigala Amerika dan antek-anteknya, atau yang diputuskan oleh pelaku kerusakan dengan kerusakannya yang hanya memandang manusia seperti potongan-potongan daging yang dapat dipermainkan sesuka hatinya.

Wahai para pemimpin yang mengurusi urusan umat…

Kadang tampak perdamaian ditengah umat, dan kadang tampak pula keinginan dan kehendak mereka yang terampas, potensi mereka untuk melakukan perlawanan terbengkalai ditengah tercerai berainya kehidupan, undang-undang yang diskriminatif, dan slogan-slogan yang berlebihan, kedzaliman dan keangkuhan. Namun pertanyaan yang terlontar pada diri kalian adalah berapa banyak para pelaku penindasan memiliki umur yang panjang? Seberapa lamakah kediktatoran bertahan? Berapa banyak penjara-penjara yang runtuh? Berapa banyak orang yang terbelenggu dan terpenjara yang tidak mampu ditundukkan? Berapa banyak undang-undang pemeriksaan secara paksa dan darurat yang telah diterapkan tidak mampu melunturkan tekad dan keyakinan? Dan berapa banyak keputusan-keputusan yang dzalim dijatuhkan tidak mampu melemahkan semangat juang? Berapa banyak…berapa banyak? Dan berapa banyak lainnya..??

Semua itu, dan banyak lagi yang lainnya apakah mampu menegakkan hukum dan negara diktator? Apakah mampu membangun peradaban dan kemajuan menuju masyarakat madani? Apakah mampu menjamin pembentukan karakter manusia yang baik?!.. untuk menjawab itu semua periksa dan telitilah buku-buku sejarah dan akan kalian dapatkan jawabannya dalam kitab Allah : “Dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan. Dan Sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar. Padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. dan Sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya”. (Ibrahim : 45-46) keinginan dan kehendak bangsa yang tidak pernah dilupakan oleh sejarah, terukir dalam sanubari umat seakan seperti sebuah palu yang siap memecahkan segala ikatan dan kekangan.

Maka janganlah kalian tertipu dengan kuatnya rintangan dan kedzaliman dari para penguasa sehingga menjual diri untuk bersekutu dan menjalin kerja sama. Dan renungkanlah wahai kalian yang berjalan melakukan penindasan akan firman Allah: “Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Kuasa”. (Fathir : 44)

Dan ketahuilah bahwa bekerja sama dan berjuang bersama umat adalah merupakan usaha berlepas diri dari partisipasi bersamanya terhadap penjajahan, dan taat pada kebenaran adalah merupakan satu-satunya jalan menuju kemuliaan dan kepemimpinan, maka dari itu bukalah pintu obsesi umat dengan cara melakukan kebenaran bersamanya, terikat dengannya dan ikut andil atas pendapatnya, mengaplikasikan dan merealisasikan segala obsesi dan cita-citanya.

Wahai jiwa yang merdeka sekalipun berada di dalam penjara…

Jika pada hari ini umat berkumpul memperingati kemenangan kehendak yang telah diraih oleh rakyat di Kosovo, dan memantau apa yang terjadi di Pakistan, maka kitapun dapat melihat ikhwan kita yang berada di penjara-penjara Mesir, Palestina, Iraq dan yang lainnya akan tanda kehidupan yang cerah bagi mereka, yang mana orang-orang dzalim menduga bahwa mereka telah berhasil melecehkan kehormatan dan mencerai beraikan segala urusan serta menyimpangkan saluran keinginan dan kehendak umat.

Namun, wahai kalian yang memiliki kemuliaan dan jiwa berkorban serta tegar dalam menghadapi ujian sampaikanlah seruan ke dalam dlamir insan untuk bangkit, memetakkan front pembebasan. Karena nur ilahi pasti akan bersinar kembali dan tidak mustahil terjadi, mampu melepaskan ikatan, melelehkan besi dan mendinginkan segala benda panas, memproklamirkan bahwa terali besi tidak akan mampu membatasi fikrah mereka, dan kepalsuan tidak akan mampu mematikan cahaya dan masa lalu tidak akan mampu membunuh hari esok umat.

Bahwa ikhwanul muslimun yang sedang menunggu pengadilan militer terhadap ikhwan mereka; bangga dan yakin bahwa akan terjadi kehancuran terhadap masa depan penindasan, menjadi ancaman akan kursi kebatilan sehingga diantara mereka ada yang tetap memilih kelompoknya walaupun harus kembali kepada undang-undang yang menindas, undang-undang darurat dan pengecualian hanya untuk menghakimi mereka dengan tuduhan tidak loyal pada negara kecuali beriman dengan kemampuan warganya untuk bekerja serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan mimpi melakukan perubahan yang lebih baik.

Maka tetapkanlah wajah dan mata kalian wahai ikhwah di dalam penjara ; karena hukum militer yang dijatuhkan terhadap kalian sehingga memasukkan kalian ke dalam penjara akan menjadi pembakar dan penyemangat sekian banyak orang yang untuk merebut kemerdekaan mereka, atau menenggelamkan ratusan yang melakukan jual beli benda-benda purbakala secara ilegal atau tenaga kerja, atau melakukan spionase dan intervensi jabatan.

Sebagaimana pengadilan yang menghakimi kalian tidak akan mampu mensirnakan kemuliaan perjalanan kalian dalam kebenaran untuk mengangkat jiwa umat dan menuju kemerdekaan.

Jadikanlah obsesi dan impian kalian hari ini sebagai cahaya yang cerah untuk hari esok bagi seluruh umat Islam “Dalam beberapa tahun lagi , bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang. (sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjinya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Ruum : 4-6), dan jadikanlah tetesan air mata para istri, ibu-ibu dan anak-anak karena berpisah dengan suami atau anak, dan orang tua mereka sebagai awal siraman yang akan menjadi ombak yang mampu menghancurkan bangunan kedzaliman.

Wahai para ikhwan…

Imam syahid Hasan Al-Banna pernah mengatakan : “Kita akan berjihad dalam rangka mewaujudkan fikrah kita, dan akan terus berjuang selama hayat masih dikandung badan, menyeru seluruh manusia kepadanya, berkorban dengan apa yang kita miliki di jalannya, sehingga kita dapat hidup dengan kemuliaan atau mati secara mulia, dan syiar yang selalu dengungkan adalah : “Allah tujuan kita, Rasul pemimpin kita, Al-Quran dustur kita, jihad jalan perjuangan kita, dan mati di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi kita”.

Sebelum saya menutup risalah ini ada yang ingin saya sampaikan kepada seluruh ikhwan yang berjalan di jalan dakwah : Jadilah kalian seperti ikhwan kalian yang berada di penjara-penjara, untuk semangat dalam berkorban dari waktu ke waktu, tingkatkanlah potensi dan kreativitas kalian dalam setiap kerja untuk agama ini sehingga mampu menggerakkan hati umat berjalan bersama kalian, memotivasi akan kebebasan dan kehendak mereka, tidak berputus asa terhadap kemampuan mereka miliki dalam melakukan perbaikan, tidak menyepelekan hak-hak mereka, yakin bahwa negara yang dzalim pasti akan hancur. “Jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”. (Al-Baqoroh : 165)

Maka bersabarlah, kuatkanlah kesabaran dan perkokohlah persatuan, jangan ada diantara kalian yang terserang penyakit putus asa sehingga kedzaliman mengalahkan kalian, dan jadikanlah hubungan horizontal (dengan Tuhan) yang erat sebagai bekal yang dapat membantu kesabaran sehingga Allah memudahkan urusan kalian dan menjadikan sendi-sendi yang ada dalam jiwa kalian sebagai kehendak dalam melakukan kebaikan “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)”. (Al-Qashash : 5) “Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh Jadi Dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut Dia sebagai anak. “Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”. (Yusuf : 21)

Allahu Akbar. Walillahil hamdu.

Shalawat dan salam atas nabi kita Muhammad saw beserta keluarga dan sahabatnya, dan segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam.

DR. Muhammad Mahdi Akif
al-ikhwan.net

Angin

April 1st, 2008 by cephilman

Angin

Seperti angin yang selalu setia
Bertiup sejukan bumi
Terus bertiup tak kenal lelah
Semuanya demi ketaatan
Pada Sang Khaliq

Seperti angin yang selalu setia
Berhembus dengan lirih
Hadirkan ketenangan
Dalam jiwa yang slalu gundah

Aku ingin seperti angin
Angin tiupkan kesejukan
Angin hembuskan ketenangan
Tanpa pernah menampakan dirinya
Karena angin
Hanya menjalankan ketaatan
Pada Sang khaliq

Dia tak seperti manusia
Selalu serakah
Selalu ingin dilihat
Padahal manusia kini
Tak pernah bisa
Meniupkan kesejukan di muka bumi
Tak pernah bisa
Memberikan ketenangan jiwa
Dan mentaati Sang Khaliq
Seperti taatnya angin

Sepatu Yang Tak Akan Saya Lupakan

March 8th, 2008 by cephilman

Sudah menjadi hal yang lazim bagi mahasiswa strata satu tingkat akhir untuk dapat menyeleaikan tugas akhir skripsi, seperti yang sedang saya alami sekarang. Hampir semua mahasiswa yang sedang atau talah menulis skripsi memilki kisah yang menarik, apakah itu enak untuk dikenang atau sebaliknya. Bahakan ada yang menganggap pada masa-masa menyelesaikan tugas akhir merupakan masa yang horor atau menakutkan dan membosankan. Terlepas dari semua pendapat orang yang tentunya beragam, saya memilki pendapat dan kisah tersendiri dengan masa penyelesaian tugas akhir saya.
Masa penyelesaian tugas akhir bagi saya sungguh menarik dan mengesankan, rasanya akan saya kenang selalu, terutama kisah saya selama berkomunikasi dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing saya yang tercinta, yang terhormat, dan yang saya banggakan. Walaupun dari sisi hasil penyelesaian tuga akhirnya mungkin saya tidak termasuk orang yang berhasil (bisa selesai dengan cepat), tapi saya yakin banyak hikmah yang bisa saya peroleh dari proses pengerjaanya.
Pada hari selasa tanggal 19 November 2007 merupakan hari yang berkesan dan akan selalu saya ingat sebagai salah satu hari yang menarik dalam masa-masa pengerjaan tugas akhir ini. Pada pagi hari di hari selasa itu, saya ditelpon oleh dosen saya untuk segera menyerahkan perbaikan tulisan yang belum sempat saya kirimkan hard copy nya karena baru soft copy nya via email beliau. Ternyata beliau meminta saya untuk menemuinya hari itu jam 10.00 WIB di kantor beliau, dan sayapun dengan senang hati meng-ia-kannya. Kemudian paginya saya bersiap. Saya segera mempersiapkan tulisan yang telah saya print out beberapa hari sebelumnya kemudian dimasukan ke dalam tas saya.
Setelah beres semua termasuk sarapan pagi, sekitar jam 09.00 saya sudah siap berangkat, tapi ternyata ketika saya ke bagian belakang kosan saya untuk mengambil sepatu, saya sangat kaget ternyata sepatu saya kotor sekali, lupa belum dicuci. Kebetulan saya hanya punya satu pasang sepatu saja, jadi kalau kotor ya harus cari pinjaman-itulah enaknya jadi anak kosan-bisa pinjam sepatu. Akhirnya pagi itu juga saya putuskan untuk meminjam sepatu ke teman kosan saya, setelah mendapatkan pinjaman sepatu yang cocok dengan ukuran kaki saya kemudian sayapun pergi untuk mnemui dosen.
Ketika sampai di kantornya masih 15 menit lagi menjelang jam 10, tapi ternyata dosennya sedang berada di depan ruangannya maka saya dipersilakannya masuk, tapi bukan ke ruangannya tapi ke ruangan laboratorium fotografi yang tepat berada di sebelah ruangan beliau, dan sayapun masuk. Dan aturan ketika memasuki ruangan laboratorium fotografi adalah sepatu atau alas kaki harus dilepas, otomatis sepatu saya lepas dan disimpan di tempat sepatu di depan laboratorium itu.
Setelah berada di dalam, seperti biasa dosen saya tidak langsung menanyakan tulisan saya, tapi malah suka menanyakan aktifitas saya, karena beliau tahu saya aktif di organisasi kampus. Setelah beberapa saat saya ngobrol tentang aktifitas terakhir saya di kampus, kemudian pembicaraan mulai mengarah ke penelitian saya. Beliau meminta tulisan saya, lalu beliau membaca tulisan saya dan langsung diberikan koreksi pada saat itu juga. Ternyata tulisan saya beres dibahas pada saat itu juga, dan saya diminta untuk memperbaikinya dalam minggu itu juga. Setelah selesai beliau kembali mengajak ngobrol masalah aktifitas saya dan masalah yang ada di kampus. Di akhirnya tidak ketinggalan setiap kali bertemu dengan beliau, yaitu selalu memberikan wanti-wanti/ mengingatkan saya untuk segera menyelesaikan dan jangan menunda penelitian lagi, “Cep segera dibereskan atuh ya…” (logat sunda-nya kental). Setelah kurang lebih setengah jam saya berada di ruangan beliau akhirnya saya pamit untuk pulang, dan beliaupun mengijinkan saya.
Saya keluar dari ruangan beliau, ternyata beliau ikut keluar bersama dengan saya. Kemudian saya mengambil sepatu dari tempat sepatu yang telah disediakan di depan laboratorium, dan memakainya. Ketika saya sedang memakai sepatu, dosen saya terus saja memperhatikan saya sambil terus mengingatkan saya untuk segera memperbaiki tulisan saya. Setelah beres saya pakai sepatu sayapun beranjak untuk pergi, saya kaget ternyata beliau berjalan ke arah yang sama dengan saya. Baru beberapa langkah berjalan, saya kaget karena beliau mengomentari dan memuji sepatu saya, “Wah…sepatunya bagus Cep”, ungkapnya. Saya makin kaget, tapi ah biasa aja dalam hati saya bicara, asal jangan sampai bilang ini pinjaman. Saya hanya senyum aja. Ternyata beliau mengomentari lagi sepatu saya, “saya jadi inget masa muda dulu kalau pake sepatu sport gitu tu…”. Saya hanya senyum-senyum aja, tapi kembali saya dikagetkan lagi oleh beliau. Kali ini beliau nanya ukuran sepatu saya, “berapa ukuran sepatumu Cep?” kemudian saya bilang ukuran sepatu saya 39.
Setelah menanyakan ukuran sepatu tadi, saya makin kaget lagi ternyata beliau mengajak saya kembali ke ruangannya yang berada di samping ruang laboratorium tempat konsultasi tadi. Wah saya jadi berpikir ada apa ya??…jangan-jangan mau ditambah lagi koreksinya untuk skripsi, pikir saya. Ketika sampai di ruangannya saya maikn kaget lagi ternyata beliau mengeluarkan sepasang sepatu baru dari bawah mejanya dan menawarkan saya untuk memakainya. Alasan beliau si katanya terlalu besar ukurannya yaitu 39 sedangkan beliau biasa memakai ukuran 38. Kemudian saya tanya harganya karena asumsi saya sepatu itu mau dijual, eh ternyata beliau malah tersenyum dan menjawab “GRATIS…pake aja Cep”. Wah pada saat itu perasaan saya benar-benar percaya tidak percaya dan kaget, padahal saya tidak pernah bilang jika saya hanya punya satu pasang sepatu dan apalagi bilang sepatu yang dipake itu sepatu pinjaman.
Beliau meminta saya untuk mencoba sepatu barunya, kemudian saya coba dan ternyata cukup di kaki saya. Setelah itu beliau langsung meminta saya untuk membungkus lagi sepatu itu dan meminta saya membawanya. Masih dalam keadaan kaget saya bingung mau bicara apa, akhirnya saya hanya bisa mengatakan terima kasih. Dan saya masukan sepatu itu kedalam tas saya. Kemudian saya pamit untuk meninggalkan ruangan beliau, dan beliaupun mengijinkan saya. Saya pun pulang dengan perasaan yang bercampur aduk, dan bertanya-tanya. Tapi entahlah, terlepas dari semua perasaan itu saya punya satu keyakinan bahwa itu semua adalah pemberian dari Allah melaui tangan dosen saya dan rizki Allah itu luas di muka bumi ini dan pasti akan diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Selama dalam perjalanan pulang ke kosan saya hanya bisa berdoa kepada Allah saja semoga dosen saya dibarokahkan usia dan rizkinya. Dan sesampainya di kosan saya langsung menceritkan kejadian langka itu kepada teman-teman kosan. Sekaligus saya menepis asumsi yang mengatakan bahwa dosen itu menakutkan, mengerjakan skripsi itu horor dan membosankan. Saya bisa membuktikan bahwa dosen itu baik, mengerjakan skripsi itu asik terlepas dari lama atau tidak prosesnya, yang jelas saya menikmatinya. Satu kuncinya bagi saya yaitu senantiasa berkomunikasi dengan dosen dan jangan lupa untuk selalu menyisipkan dalam setiap do’a-do’a kita untuk kebaikan dosen-dosen kita karena dosen adalah orang tua kita di kampus.
Demikian kisah nyata saya ini, semoga bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya….

Menunda

December 30th, 2007 by cephilman

Menunda….menunda…Menunda-nunda
Menunda merupakan pekerjaan atau kebiasaan sebagian orang, yang saya yakini tidak sedikit orang yang pernah menunda. Apakah itu menunda pekerjaan, menunda kelulusan..(hehe), menunda nikah, dll. Kata orang2 bijak menunda atau menunda-nunda merupakan salah satu penyakit perilaku yang bahaya.
Entahlah…memang menunda pekerjaan kadang pada mulanya kita anggap biasa aja, tapi ternyata ketika telah datang lagi pekerjaan lain baru kerasa bingungnya…Bener ga’? Dan sayangnya waktu yang kita korbankan untuk menunda tidak bisa kembali sementara pekerjaan yang kita tunda harus tetap kita kerjakan.
Telah banyak pengalaman dan pengakuan orang2 yang menunda-nunda pekerjaan…yang isinya sama mereka merasa nyesel yang tiada tara. So hati-hati salah menunda.
Tetapi pada kala tertentu menunda pun dapat kita lakukan, dan bahkan harus kita lakukan , seperti menunda nikah untuk anggota baru TNI, dll.

Baru beberapa hari ini saya dapat tips untuk menunda yang baik ni:
TUNDALAH PEKERJAAN DAN KEBIASAAN MENUNDA-NUNDA ANDA…!!!!!

bisa dicoba

December 28th, 2007 by cephilman

Sapi, kuda, singa, anjing, palung, angin.
Diantara kata-kata dia atas, mana yang tidak sejenis…?
Ternyata yang tidak sejenis adalah kata SAPI
Mengapa demikian? Karena jika kata-kata di atas disandingkan dengan kata “LAUT”, maka tidak ada SAPI LAUT. So sapi tidak sejenis dengan kata-kata lainnya.
ya, terkadang kebanyakan orang akan langsung mengingat dengan bentuk fisik dari setiap kata-kata dia atas tadi. Jarang sekali yang berpikir dengan cara mencari hubungan kata-kata lagi, karena biasanya bentuk fisik atau yang nampak lebih mudah untuk diingat jika dibanding dengan yang abstrak atau kata-kata sekalipun. Itu jika dalam games tadi
Sekarang bagaimana dalam perilaku manusia…??
Sebenarnya tidak jauh berbeda, seseorang akan cenderung lebih mudah mengingat apa-apa yang kasat mata (perbuatan). Maka tidak salah jika (dalam ajaran islam) Rasulullah Muhammad saw. senantiasa memberikan contoh atau tauladan bahkan dalam berda’wahnya pun beliau dengan memberikan tauladan nyata. Beliau selalu memulai dari dirinya “ibda binafsika…!!”
Itu aja dulu…namanya juga game….
Hidup kan ibarat game